Perlindungan Saksi dalam Praktek Peradilan Pidana

PERLINDUNGAN SAKSI DALAM PRAKTIK PERADILAN PIDANA

Di dalam pasal  184 ayat (1) huruf a KUHAP telah menempatkan keterangan saksi sebagai alat bukti yang utama dan pertama dalam perkara pidana, dan oleh karena keutamaan peranan saksi di dalam perkara pidana sangat wajar jika kedudukan saksi dan/ atau korban harus dilindungi sehingga mereka terbebas dari segala bentuk ancaman ketika memberikan keterangan dan/ atau kesaksian dalam setiap proses peradilan pidana. Seiring dengan lahirnya UU No.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan dengan dibentuknya pula Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) adalah sangat jelas dimaksudkan untuk mewujudkan hal tersebut.

Namun dalam praktiknya, keberadaan saksi dan/ atau korban masih sering dibayangi berbagai macam ketakutan-ketakutan yang sengaja dilakukan dan diciptakan oleh para pelaku tindak pidana dan/ ataupun orang suruhannya sehingga saksi dan/ atau korban tersebut menjadi takut untuk memberikan kesaksiannya guna mengungkap adanya suatu tindak pidana. Bukti nyata akan adanya berbagai bentuk ancaman yang kerap dialami saksi dan/ atau korban tersebut salah satunya adalah penganiayaan yang menimpa aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW), Tama S. Langkun beberapa waktu yang lalu karena dia melaporkan kasus rekening mencurigakan milik sejumlah perwira tinggi Polri.

Selain ancaman secara fisik seperti tersebut di atas, masih ada ancaman lain, yakni ancaman akan dituntut secara pidana dengan dilaporkan balik atas tuduhan melanggar pasal 310 KUHP yakni pencemaran nama baik, ketika seorang saksi itu akan mengungkap adanya dugaan suatu tindak pidana korupsi. Padahal menurut pasal 10 ayat (1) UU No.13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, seorang saksi, korban dan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik secara pidana maupun perdata atas laporan dan kesaksian yang telah diberikan. Inilah alasan utama yang membuat nyali mereka menciut untuk terlibat lebih jauh dalam memberikan kesaksian terhadap suatu perkara pidana.

Kondisi ini tentu akan memicu ketakutan luar biasa baik bagi saksi dan/ atau korban maupun bagi saksi lainnya, sehingga penyidik seringkali kesulitan untuk mengungkap kejahatan yang terjadi untuk meneruskan proses hukumnya sampai ke pengadilan. Akibatnya banyak kasus kejahatan tidak pernah tersentuh proses hukum untuk disidangkan di pengadilan karena memang tidak ada satupun saksi dan/ atau korban yang berani mengungkapkannya, sementara bukti lain yang didapat penyidik amatlah kurang memadai atau sedikit.

Saat ini sekalipun LPSK telah ada, namun dalam praktiknya tidak dan/ atau belum dapat menjamin dan memberikan rasa aman kepada saksi dan/ atau korban yang akan memberikan keterangan dalam setiap proses peradilan pidana, khususnya dalam rangka mengungkap kejahatan terorganisir yang salah satunya adalah korupsi. Belum lagi ada kalanya terjadi tumpang tindih kewenangan dalam hal melindungi saksi yang sekaligus menjadi tersangka dalam dugaan suatu tindak pidana, yakni antara LPSK dan Kepolisian, seperti yang dialami oleh Komisaris Jenderal Susno Duadji, dimana antara kedua lembaga tersebut terjadi rebutan dalam hal siapa yang paling berhak untuk memberikan perlindungan bagi jenderal bintang tiga tersebut.

Apalagi untuk memasukkan saksi dan/ atau saksi korban ke dalam program perlindungan, ada syarat saksi dan/ atau korban tersebut harus bersedia memutuskan hubungan dengan cara apapun dengan orang lain yang dikenalnya selain atas persetujuan LPSK, sesuai pasal 30 ayat (2) huruf c UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dan ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dan belum tentu saksi dan/ atau korban tersebut bersedia melakukannya. Ditambah satu lagi alasan klasik, yakni masalah keterbatasan dana atau anggaran yang disediakan pemerintah untuk membiayai pelaksanaan tugas dari LPSK itu sendiri meskipun sudah dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Betapa kompleksnya permasalahan perlindungan saksi dan/ atau saksi korban dalam perkara pidana di Indonesia!.

Achmad Saryanto, SH. (Ass. Advokat Law Firm MSA Lubis & Partners)

 

Osama Belum Mati

OSAMA BELUM “MATI”

Pemberitaan mengenai kematian Osama bin Laden yang tewas dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat di Kota Abbotabad, 100 kilometer utara Islamabad, ibukota Pakistan menjadi headline diberbagai media, baik cetak maupun elektronik. Presiden AS Barack Obama menyatakan tewasnya pemimpin Al-Qaeda itu sebagai kemenangan dunia atas terorisme. Kematian Osama pun disambut gegap gempita oleh warga AS dan seakan AS telah tampil sebagai pemenang dalam perang melawan terorisme. Tak mau ketinggalan, para pemimpin dunia pun menyatakan kematian Osama sebagai kemenangan bagi kekuatan perdamaian dan satu langkah maju dalam memerangi terorisme.

Kabar tewasnya pucuk pimpinan  Al Qaeda sudah pasti merupakan pukulan psikologis bagi para penganut gerakan radikal, namun inspirasi gerakan ala Osama tidak akan pernah surut. Tewasnya Osama justru akan menumbuhkan motivasi balas dendam dari kelompok radikal dan makin menumbuhkan gerakan-gerakan yang se-ideologi dengan Osama dan selanjutnya Osama akan menjadi motivasi, bahkan inspirasi untuk pihak-pihak yang seideologi.

Sosok Osama menjadi sangat fenomenal karena kemampuan kaderisasi yang sangat luar biasa pesat dan juga dukungan keuangan pribadi yang juga luar biasa. Dia berhasil menggabungkan kemampuan keuangan dengan frustasi sosial serta kemuliaan perjuangan Jihad Fi Sabilillah. Kemampuan hebat inilah yang menyebabkan pengikut dan sekaligus pengagum Osama banyak bertebaran diberbagai belahan dunia..

Osama sudah telanjur menjadi simbol perlawanan bagi kelompok Islam radikal. Bagi kelompok radikal dunia, ide-ide dan gerakan Osama akan menjadi panutan. Secara struktur organisasi, Al Qaeda akan tersendat karena kehilangan pemimpin besarnya, tapi secara ideologi, ide Osama akan terus hidup. Bahkan, kemungkinan jumlah pengikut ajaran Osama makin besar pasca kematiannya. Karena itu terorisme harus didekati ke jantungnya, yakni ketidakadilan baik lokal maupun global yang berujung pada frustasi sosial yang berkepanjangan.

Namun, kematian pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden masih mengundang kontroversi. Para pengikut dan pengagum Osama mengatakan Osama terbunuh di luar Pakistan akan tetapi jenazahnya sengaja dibawa ke Pakistan setelah dibunuh. Selain itu jalannya operasi penyergapan dan jenazah Osama juga masih dipertanyakan. Hingga saat ini, sebagian warga Pakistan masih meragukan bahwa Osama benar-benar tewas dalam serangan di Kota Abbotabad karena hingga saat ini, AS belum menghadirkan bukti jenazah pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden.

Benar atau tidak pemberitaan tentang kematian tokoh Al-Qaida yang merupakan momok bagi warga AS ini rasanya tidak penting. Apakah satu orang ini benar-benar telah menentukan keadaan yang berlangsung di muka bumi selama ini dan bertanggungjawab atas serangkaian aksi teror selama ini? Pasti tidak, karena teroris bermunculan dari waktu ke waktu dan yang satu tewas yang lain hadir. Jadi seandainya memang Osama adalah seorang pemimpin teroris, kematiannya tak akan serta merta menjadikan bumi ini damai, karena Osama pasti sekedar istilah untuk menyederhanakan masalah saja. Jadi meskipun Osama telah tewas, namun ideologi dan ajaran perlawanannya tidak akan pernah mati.

Mas Achmad Saryanto, SH. (Staf Kantor Hukum MSA Lubis & Associates Yogyakarta).

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.